Indramayu, pillardemokrasi.com – Di tengah kemajuan infrastruktur, jembatan tambangan Pulau Cangak di Desa Bangodua, Kecamatan Bangodua, masih menjadi salah satu dari puluhan jasa penyebrangan manual yang bertahan di Kabupaten Indramayu. Sabtu (18/01/2025), suasana di lokasi ini masih dipenuhi oleh aktivitas penyebrangan yang meski sederhana, tetap memiliki daya tarik dan cerita tersendiri.
Meski keberadaannya mulai tergerus oleh pembangunan jembatan gantung di beberapa wilayah, jembatan tambangan ini tetap eksis sebagai salah satu alternatif penyebrangan, terutama bagi warga sekitar. Namun, keberadaan tambangan ini bukan tanpa risiko. Arus air sungai yang kadang tak terduga menjadi ancaman serius bagi para operator tambangan maupun pengguna jasanya.

Operator jembatan tambangan ini mengandalkan alat manual dan ketrampilan yang terlatih dari waktu ke waktu. Dengan risiko nyawa yang mengintai, mereka tetap menjalankan tugasnya demi melayani kebutuhan transportasi warga sekitar. Bagi para operator, pekerjaan ini bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Sungai ini kadang deras, apalagi saat musim hujan. Tapi kami sudah terbiasa. Ini pekerjaan kami sehari-hari,” ujar salah satu operator tambangan yang tak ingin disebutkan namanya.

Bagi sebagian orang, tambangan ini lebih dari sekadar alat transportasi. Cepay (45), seorang pengguna setia jasa tambangan, mengungkapkan bahwa jembatan ini menyimpan kenangan masa remajanya. Ia kerap menggunakan tambangan saat masih muda untuk bertemu kekasihnya di seberang sungai.
“Dulu waktu masih ABG, saya sering pakai jasa ini buat pacaran. Waktu itu ongkosnya cuma 500 perak, sekarang sudah 2.000 rupiah sekali jalan. Tapi kenangannya tetap sama,” ujar Cepay sambil tersenyum.
Tambangan ini bukan hanya menjadi saksi perjalanan individu seperti Cepay, tetapi juga simbol kehidupan masyarakat pedesaan yang tetap menjaga tradisi meski zaman terus berubah.

Keberadaan tambangan manual seperti ini menunjukkan bahwa meski modernisasi terus berjalan, masih ada ruang untuk tradisi dan solusi transportasi lokal. Namun, risiko yang mengintai para operator dan pengguna tambangan ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah setempat. Penguatan fasilitas keselamatan dan pelatihan bagi para operator dapat menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan tradisi ini tanpa mengabaikan keselamatan.
Tambangan Pulau Cangak adalah bukti bahwa tradisi dan modernisasi dapat berjalan berdampingan. Dengan perhatian yang tepat, jasa penyebrangan manual ini bisa terus menjadi bagian dari cerita kehidupan masyarakat Indramayu.











