Indramayu, PilarDemokrasi.com — Kegiatan “Midang Bengi Padang Wulan” kembali digelar untuk keempat kalinya pada sabtu malam , 25 April 2025. Acara ini berlangsung meriah di halaman depan Kantor Sekretariat DPD Golkar Indramayu dan dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, pengurus DPD Golkar Indramayu, anggota DPRD Golkar Indramayu,pemuda Pancasila PAC sukra serta masyarakat umum.

Dengan suasana santai namun tetap fokus, acara malam itu mengangkat tema penting: Peranan Pemuda sebagai Generasi Penerus dalam Industrialisasi Emas Segitiga Rebana. Segitiga Rebana meliputi tiga kabupaten strategis di Jawa Barat, yaitu Indramayu, Majalengka, dan cirebon. Indramayu sendiri memiliki posisi kunci dalam rencana pemerintah menjadikan Jawa Barat sebagai sentra industri kedua terbesar di Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, dijelaskan bahwa ada enam wilayah di Indramayu yang direncanakan menjadi kawasan industri, yakni: Patrol-Sukra, Losarang, Gantar-Terisi,Balongan, Tukdana, dan Krangkeng. Dari enam wilayah tersebut, tiga kawasan telah mulai dikembangkan, yaitu Losarang, Krangkeng, dan Gantar-Terisi. Ketua Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Taufik Hidayat, menjelaskan bahwa wilayah-wilayah tersebut dipilih karena tidak produktif untuk pertanian, hanya mengandalkan tadah hujan.
Sayangnya, meskipun telah mengundang kepala dinas terkait, tidak satu pun dari ketiganya hadir secara langsung—hanya mengirimkan perwakilan. Hal ini disayangkan oleh Ketua DPD Golkar Indramayu sekaligus anggota Komisi V DPR RI, Daniel Mutaqien Syafiuddin. “Ini acara penting untuk masa depan generasi muda Indramayu. Kenapa kepala dinas tidak hadir? Bahkan ketiganya absen,” tegasnya.

Meski begitu, acara berjalan lancar. Antusiasme mahasiswa sangat tinggi, terutama dalam sesi tanya jawab. Mereka menyampaikan berbagai pertanyaan kritis terkait kebijakan pemerintah daerah dan akses pendukung dalam mewujudkan industrialisasi emas Segitiga Rebana.











