Indramayu, Pillardemokrasi.com – Suhu dingin tak biasa sedang ‘memeluk’ sebagian besar Pulau Jawa, termasuk daratan Indramayu, membuat banyak warga bertanya-tanya.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera meluruskan spekulasi: ini bukanlah efek Aphelion, melainkan kombinasi dinamis dari fenomena meteorologis lokal. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan selalu mengandalkan informasi cuaca dari sumber resmi BMKG.
Tiga Faktor Utama di balik sensasi dingin yang menyelimuti Pulau Jawa
* Hempasan Angin Monsun Australia yang Kering dan Dingin: Inilah motor utamanya. Angin monsun Australia bertiup kencang, membawa serta massa udara kering dan dingin langsung dari Benua Kanguru menuju wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Pulau Jawa. Udara minim uap air ini membuat malam hari terasa sangat menusuk, dan bahkan di siang hari pun, panas matahari tidak terlalu menyengat karena kelembapan yang rendah.
* Langit Malam yang Cerah Mempercepat Pelepasan Panas: Saat malam tiba dengan langit yang jernih tanpa awan, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat “melarikan diri” ke atmosfer. Tidak ada selimut awan yang menahan panas, sehingga suhu permukaan bumi anjlok drastis, terutama menjelang dini hari.
* Hujan Lokal yang “Menambah” Dingin: Meski sudah dingin, hujan yang masih mengguyur di beberapa lokasi justru memperparah suasana. Tetesan air hujan membawa serta massa udara dingin dari ketinggian awan langsung ke permukaan. Selain itu, mendung dan hujan juga menghalangi sinar matahari untuk memanaskan kembali permukaan bumi, membuat hawa dingin bertahan lebih lama.
Tegasnya BMKG: Ini Bukan Aphelion!
BMKG kembali menegaskan, suhu dingin ekstrem yang dirasakan di Jawa ini sama sekali tidak berkaitan dengan Aphelion. Fenomena Aphelion, di mana Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari, adalah peristiwa astronomis global yang seharusnya memengaruhi seluruh dunia.
“Suhu dingin yang terjadi di Pulau Jawa lebih disebabkan oleh faktor-faktor meteorologis lokal yang telah kami jelaskan,” demikian keterangan resmi BMKG.
Jadi, kombinasi unik dari hembusan monsun Australia yang dingin, langit malam yang cerah, serta efek pendingin dari hujan lokal, adalah penyebab sebenarnya di balik suhu yang menusuk di Pulau Jawa. Tetap jaga kesehatan dan pantau terus pembaruan informasi dari BMKG!











