Indramayu, pillardemokrasi.com – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Indramayu, H. Bambang Hermanto dan H. Kasan Basari, yang menggunakan slogan “Wong Dewek” dinilai tepat oleh pengamat politik lokal. Menurut pengamat Drs.Warno Mudiana Asin,SE slogan tersebut sangat relevan dengan karakteristik masyarakat Indramayu yang unik dalam penggunaan bahasa sehari-hari.
“Indramayu memiliki keunikan bahasa yang beragam karena pengaruh pergaulan dan budaya masyarakat yang sudah bercampur dari berbagai daerah,” ujar pengamat tersebut. Bahasa sehari-hari di Indramayu bervariasi, mulai dari kata “inyong”, “enyong”, “reyang”, “kula”, hingga “aing” dan “abdi”, tergantung pada daerah dan sejarah keluarga masing-masing.
Pemanggilan diri dengan istilah “inyong” atau “enyong”, misalnya, lebih dominan di wilayah Kecamatan Anjatan seperti Desa Lempuyang, Wanguk, Kedungwungu, Kopyah, dan Bugistua. Hal ini, menurut pengamat, disebabkan oleh latar belakang para sesepuh atau leluhur mereka yang berasal dari Kabupaten Brebes. Sementara itu, penggunaan kata “kita” lebih banyak ditemukan di kalangan generasi muda yang sudah terbiasa bergaul dengan masyarakat kota.

Warno juga menjelaskan bahwa istilah “aing” atau “abdi” digunakan di beberapa desa yang berbatasan dengan Kabupaten Subang, seperti Blok Karang Jaya, Desa Mangunjaya. Hal ini memperlihatkan betapa beragamnya bahasa yang digunakan oleh masyarakat Indramayu.
“Dengan memilih slogan ‘Wong Dewek’, pasangan Berkah telah menunjukkan bahwa mereka memahami kearifan lokal dan dinamika bahasa yang ada di masyarakat Indramayu. Bagi banyak warga, slogan ini terasa sangat dekat dan mencerminkan identitas mereka,” lanjutnya. Rabu, (09/10/2024).
Pasangan nomor urut satu, H. Bambang Hermanto dan H. Kasan Basari, memang berusaha mendekatkan diri dengan masyarakat melalui pendekatan budaya lokal, termasuk melalui pemilihan slogan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari warga. Menurut pengamat, langkah ini adalah strategi yang cerdas dalam memenangkan hati masyarakat Indramayu.











