Bekasi, pillardemokrasi.com – Langit mendung seolah mengiringi hati pilu Keimita Ayuni Putri Aiman (12), seorang siswi berprestasi dari keluarga pemulung di pinggiran Kabupaten Bekasi. Impiannya untuk melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 27 Kota Bekasi, yang hanya berjarak 1,3 kilometer dari rumahnya, harus kandas di tangan birokrasi zonasi. Kisahnya yang viral di media sosial telah menyentuh hati ribuan orang, memicu kemarahan dan keprihatinan publik.
Sejak kelas satu, Keimita adalah kebanggaan SDN Sumur Batu 1. Prestasinya tak main-main: selalu meraih ranking satu, kerap mewakili sekolah dalam berbagai lomba, dan menjadi inspirasi bagi teman-temannya. Rapornya penuh dengan nilai 90-an, bukti enam tahun kerja keras dan dedikasinya pada pendidikan.
Namun, semua prestasinya seolah tak berarti ketika ia mencoba mendaftar ke SMPN 27 Kota Bekasi melalui jalur prestasi. Sistem menolaknya mentah-mentah dengan alasan “Domisili tidak sesuai zonasi.” Keimita tinggal di Kabupaten Bekasi, sementara SMPN 27 berada di Kota Bekasi. Garis batas administratif ini menjadi penghalang tak kasat mata yang meruntuhkan mimpinya.
Air mata Keimita tumpah. Ia tak mengerti mengapa nilai-nilai tinggi dan kedekatan rumahnya dengan sekolah impiannya tak mampu menembus tembok birokrasi. Dengan hati remuk, ia merekam video singkat yang menyayat hati: “Maaf ya Bu… Ayah… Ima enggak bisa masuk SMP negeri. Ima udah coba, tapi enggak bisa…” Video ini dengan cepat menyebar, memancing empati netizen dan bahkan menarik perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Sang ibu, Atimah, tak kalah kecewa. “Kalau dari awal dibilang enggak bisa daftar ke Kota Bekasi, ya saya enggak maksa. Tapi ini malah disuruh daftar jalur prestasi oleh sekolahnya. Saya orang awam, mana ngerti sistem yang ribet begini…” ujarnya lirih, menggambarkan kebingungan orang tua yang awam akan rumitnya sistem penerimaan siswa baru.
Kini, satu-satunya pilihan bagi Keimita adalah SMPN 2 Setu, sebuah sekolah negeri di Kabupaten Bekasi yang berjarak hampir dua kilometer. Jauh dari rumah dan bukan zona impiannya. Impiannya mengenakan seragam SMPN 27, yang hanya butuh lima menit jalan kaki dari rumah, kini hanya tinggal khayalan.
Di tengah ketidakpastian ini, Keimita hanya bisa menunggu, memeluk rapor prestasinya erat-erat, dan mungkin bertanya dalam hati, “Bu… Ima enggak salah kan, kalau punya mimpi?” Kisah Keimita menjadi cerminan pahit bagaimana sistem, yang seharusnya memfasilitasi pendidikan, justru bisa menjadi penghalang bagi anak-anak berprestasi seperti dirinya.











