Indramayu, pillardemokrasi.com – Tradisi masyarakat Indonesia yang beragam selalu menawarkan cerita menarik yang penuh nilai budaya dan kearifan lokal. Salah satunya adalah Sedekah Bumi, sebuah tradisi unik yang berlangsung di Blok Cilempung, Desa Bugis, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Acara ini berlangsung meriah pada Minggu, 1 Desember 2024, dan menjadi contoh nyata bagaimana gotong royong masyarakat dapat melahirkan sebuah perayaan besar tanpa melibatkan unsur pemerintah desa.
Kegiatan yang dikenal sebagai Wiragora Sedekah Bumi ini tidak hanya menjadi ajang syukur atas hasil panen yang melimpah, tetapi juga simbol solidaritas masyarakat setempat. Dengan dana yang terkumpul secara swadaya hingga Rp105 juta, acara ini diisi dengan berbagai hiburan seni tradisional, mulai dari pagelaran wayang kulit oleh Dalang Rusmanto dengan sinden Duniawati, hingga penampilan enam grup seni Singa Depok dari desa-desa tetangga, yakni Bugis, Bugis Tua, Mangunjaya, dan Salamdarma (B2MS).
Menurut Johan Wahyudin, S.Pd.I., Kepala Desa Bugis, tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antar warga, tetapi juga menjadi cerminan nilai-nilai luhur masyarakat setempat. “Saya sangat mengapresiasi semangat gotong royong warga Blok Cilempung. Tradisi Sedekah Bumi ini semoga terus dijalankan setiap tahun dan menjadi contoh bagi blok-blok lain, bahkan desa-desa tetangga,” ungkapnya.
Semangat Gotong Royong Masyarakat
Gogon, Ketua Panitia Wiragora Sedekah Bumi sekaligus pemimpin Grup Seni Andini Putra, menuturkan bahwa acara ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah. “Kami ingin berterima kasih kepada Tuhan atas hasil panen padi dan tanaman lain. Oleh karena itu, masyarakat dengan antusias menyisihkan sebagian hasil bumi untuk mendukung acara ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ustad Karyono, perwakilan pelaksana acara, menambahkan bahwa Sedekah Bumi tahun ini direncanakan dengan matang. “Alhamdulillah, dana yang terkumpul lebih dari Rp105 juta, dan semua digunakan sebaik mungkin sesuai kebutuhan. Hiburan yang kami suguhkan meliputi wayang kulit, enam grup Singa Depok, arak-arakan 47 burung, serta pesta kembang api di malam hari,” jelasnya.
Tradisi yang Menginspirasi
Tak hanya warga Blok Cilempung, masyarakat dari berbagai wilayah sekitar juga turut meramaikan acara tersebut. Salah seorang warga, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan kebanggaannya terhadap tradisi ini. “Acara ini menyatukan masyarakat dan menjadi simbol kebersamaan. Semoga kegiatan ini menginspirasi desa-desa lain untuk melakukan hal serupa,” katanya.
Selain itu, tradisi ini juga dianggap sebagai ajang pelestarian budaya. Seni wayang kulit dan kesenian Singa Depok yang ditampilkan mencerminkan kekayaan budaya lokal yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda.
Harapan ke Depan
Acara Wiragora Sedekah Bumi di Blok Cilempung membuktikan bahwa tradisi lokal dapat tetap hidup dan bahkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial, tradisi ini diharapkan terus berlangsung dan semakin mempererat persatuan masyarakat.
“Tradisi ini bukan hanya milik Desa Bugis, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga bersama. Semoga acara ini membawa berkah dan kebahagiaan bagi semua,” ujar salah satu tokoh masyarakat.











